Langsung ke konten utama

KUMPULANN PUISI KARYA W.S RENDRA PART 1

 MASMUR PAGI

oleh: W.S. Rendra


Kata-kata masmur ini

timbul dari asap dapur

yang mengepul ke sorga

dan di atas tungku dapur itu

istriku merebus susu -

rahmat-Mu yang pertama.

Kata-kata masmur ini

lari ke lembah-lembah

dan di tepi cakrawala

mereka kawini sepi

yang lama menantinya.

Lembu-lembu masuk ke air

mengacau air yang jernih

menentang senja

dan hari kiamat.

Maka

di udara yang segar

bersebaranlah bau minyak wangi

dari jubah malaekat,

Tubuh-Mu yang indah

Kaubaringkan di gunung yang tinggi


dan nampaklah dari bawah

bagai awan mandi cahaya.

Bebek-bebek pun bertelor

kerna Kaujamah dengan tangan-Mu.

Ikan-ikan jumpalitan dalam air

dan padi melambai-lambai

menegur-Mu.

Pohon-pohon cemara di gunung

menggelitiki tapak kaki-Mu

dengan cara yang jenaka.

Kau pun lalu bangkit pindah

ke lain cakrawala

menggeliat dan bersenam indah

lalu melangkah menaiki matahari,

mendaki, mendaki,

mengeringkan celana dan bajuku

yang dicuci oleh istriku.


Hai, Kamu!


Oleh: WS. Rendra


Luka-luka di dalam lembaga, 

intaian keangkuhan kekerdilan jiwa


Noda di dalam pergaulan antar manusia 

duduk di dalam kemacetan angan-angan.

 

Aku berontak dengan memandang cakrawala. 

Jari-jari waktu menggamitku.

 

Aku menyimak kepada arus kali. 

Lagu margasatwa agak mereda. 


Indahnya ketenangan turun ke hatiku. 


Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku. 


Jakarta, 29 Pebruari 1978


Sajak Pesan Pencopet Kepada Pacarnya

oleh: W.S. Rendra


Sitti,

kini aku makin ngerti keadaanmu

Tak ‘kan lagi aku membujukmu

untuk nikah padaku

dan lari dari lelaki yang miaramu


Nasibmu sudah lumayan

Dari babu dari selir kepala jawatan

Apalagi?

Nikah padaku merusak keberuntungan

Masa depanku terang repot

Sebagai copet nasibku untung-untungan

Ini bukan ngesah

Tapi aku memang bukan bapak yang baik

untuk bayi yang lagi kau kandung


Cintamu padaku tak pernah kusangsikan

Tapi cinta cuma nomor dua

Nomor satu carilah keslametan

Hati kita mesti ikhlas

berjuang untuk masa depan anakmu

Janganlah tangguh-tangguh menipu lelakimu

Kuraslah hartanya

Supaya hidupmu nanti sentosa

Sebagai kepala jawatan lelakimu normal

suka disogok dan suka korupsi

Bila ia ganti kau tipu

itu sudah jamaknya

Maling menipu maling itu biasa

Lagi pula

di masyarakat maling kehormatan cuma gincu

Yang utama kelicinan

Nomor dua keberanian

Nomor tiga keuletan

Nomor empat ketegasan, biarpun dalam berdusta

Inilah ilmu hidup masyarakat maling

Jadi janganlah ragu-ragu

Rakyat kecil tak bisa ngalah melulu


Usahakan selalu menanjak kedudukanmu

Usahakan kenal satu menteri

dan usahakan jadi selirnya

Sambil jadi selir menteri

tetaplah jadi selir lelaki yang lama

Kalau ia menolak kau rangkap

sebagaimana ia telah merangkapmu dengan isterinya

itu berarti ia tak tahu diri

Lalu depak saja dia

Jangan kecil hati lantaran kurang pendidikan

asal kau bernafsu dan susumu tetap baik bentuknya

Ini selalu menarik seorang menteri

Ngomongmu ngawur tak jadi apa

asal bersemangat, tegas, dan penuh keyakinan

Kerna begitulah cermin seorang menteri


Akhirnya aku berharap untuk anakmu nanti

Siang malam jagalah ia

Kemungkinan besar dia lelaki

Ajarlah berkelahi

dan jangan boleh ragu-ragu memukul dari belakang

Jangan boleh menilai orang dari wataknya

Sebab hanya ada dua nilai: kawan atau lawan

Kawan bisa baik sementara

Sedang lawan selamanya jahat nilainya

Ia harus diganyang sampai sirna

Inilah hakikat ilmu selamat

Ajarlah anakmu mencapai kedudukan tinggi

Jangan boleh ia nanti jadi propesor atau guru

itu celaka, uangnya tak ada

Kalau bisa ia nanti jadi polisi atau tentara

supaya tak usah beli beras

kerna dapat dari negara

Dan dengan pakaian seragam

dinas atau tak dinas

haknya selalu utama

Bila ia nanti fasih merayu seperti kamu

dan wataknya licik seperti saya–nah!

Ini kombinasi sempurna

Artinya ia berbakat masuk politik

Siapa tahu ia bakal jadi anggota parlemen

Atau bahkan jadi menteri

Paling tidak hidupnya bakal sukses di Jakarta


-Rumpun Alang-Alang-


Karya: W. S Rendra


Engkaulah perempuan terkasih, 

yang sejenak kulupakan, sayang 

Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang 


Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal 

Gelap dan bergoyang ia dan ia pun berbunga dosa

 

Engkau tetap yang punya 


tapi alang-alang tumbuh di dada


Orang-orang Miskin


Karya: W.S Rendra





Orang-orang miskin di jalan,

yang tinggal di dalam selokan,

yang kalah di dalam pergulatan,

yang diledek oleh impian,

janganlah mereka ditinggalkan.


Angin membawa bau baju mereka.

Rambut mereka melekat di bulan purnama.

Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,

mengandung buah jalan raya.


Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.

Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.

Tak bisa kamu abaikan.


Bila kamu remehkan mereka,

di jalan kamu akan diburu bayangan.

Tidurmu akan penuh igauan,

dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.


Jangan kamu bilang negara ini kaya

karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.

Jangan kamu bilang dirimu kaya

bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.

Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.

Dan perlu diusulkan

agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.

Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.


Orang-orang miskin di jalan

masuk ke dalam tidur malammu.

Perempuan-perempuan bunga raya

menyuapi putra-putramu.

Tangan-tangan kotor dari jalanan

meraba-raba kaca jendelamu.

Mereka tak bisa kamu biarkan.


Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.

Mereka akan menjadi pertanyaan

yang mencegat ideologimu.

Gigi mereka yang kuning

akan meringis di muka agamamu.

Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap

akan hinggap di gorden presidenan

dan buku programma gedung kesenian.


Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,

bagai udara panas yang selalu ada,

bagai gerimis yang selalu membayang.

Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau

tertuju ke dada kita,

atau ke dada mereka sendiri.

O, kenangkanlah :

orang-orang miskin

juga berasal dari kemah Ibrahim


Yogya, 4 Pebruari 1978


Komentar